Persekusi dan Mental Cemen, Fenomena Baru di Indonesia

Akhir-akhir ini, makin banyak anak-anak muda yang menghina ulama. Hal ini menyinggung perasaan para umat muslim di Indonesia. Dan mereka kemudian di buru secara online maupun offline. Pelaku "hate-speech" terhadap tokoh agama Islam di biarkan, kemudian para pemburu pelaku hate-speech tersebut di buru, dan ternyata aparat, pemerintah dan 2 media berita lebih memilih logika terbalik .. yakni mengejar para pemburu penista ulama. Disinilah mental cemen dan persekusi menjadi fenomena terkini.


Persekusi

Perburuan para pelaku penghina ulama di sosmed kini di kenal dengan nama Persekusi. Para buzzer dari pihak tertentu, 2 media berita (Metro TV dan CNN), Pemda DKI, Kemkominfo, POLRI, sedang menggadang-gadangkan istilah persekusi.

Persekusi ini lebih mirip pada akting film Serigala dan Kelinci, dimana si Kelinci adalah binatang yang lemah selalu jadi bulan-bulanan para Serigala. Tentunya ini merupakan akting Playing Victim alias Mental Cemen.

Arti dari persekusi adalah merupakan perburuan terhadap pelaku hate-speech secara sewenang-wenang, seperti dengan melakukan intimidasi maupun kekerasan fisik. Intinya, jika tidak ingin mengalami hal seperti itu, cukup tidak usah ikut-ikutan menghina para tokoh agama.

Persekusi di Indonesia terjadi karena, pihak aparat penegak hukum dan pemerintah serta media berita seperti metro TV tersebut sangat gemar memusuhi ulama, sehingga penegakan hukum menjadi sangat tidak berimbang. Contoh, pelaku pesta Gay di Lepas dan Minta di Lindungi, sedangkan Pengajian di bubarkan. Dan tololnya, sekelompok masa yang mengaku santri Islam malah yang membubarkannya, tentu ini karena pasokan uang .. maka mereka adalah penyembah uang (Musyrikin berkedok organisasi pesantren Islam, dan ini sudah di jelaskan di surrah Al-Maidah).

Mental Cemen

Teringat dengan masa kecil, yang dulu ada seorang anak yang hobby nya menista dan menghina suatu kelompok. Ketika akhirnya berhasil kami kejar, lantas di kerjai oleh kelompok itu. Betapa cengengnya anak tersebut yang melakukan penghinaan dan penistaan terhadap kelompok tersebut.

Mental cemen ini tentunya dilakukan oleh anak-anak 'sinyo' yang sering dilarang main dengan kami oleh ibunya. Akhirnya, si 'sinyo' tersebut hanya menangis di pinggir pagar sembari di bujuk oleh para pembantunya. Dan ini yang membentuk prinsip "sour grapes" pada si sinyo.. akhirnya menjadi nyinyir kepada setiap anak yang melewati rumahnya.

Sekarang para sinyo mental cemen tersebut sudah beranjak dewasa, rasa iri dengki terpendam menjadi dendam sosial. Di dukung dengan rezim yang sangat anti pada Islam di negara yang mayoritas berpenduduk muslim, keluarlah akal-akalan licik hasil pemikiran psikopat yang membentuk fenomena baru di Indonesia sekarang ini.

Inilah Fenomena Baru Bangsa Indonesia

Dengan segudang jargon kamuflase seperti:

  • Saya Indonesia, jika orang Indonesia maka sudah tentu tidak paham tidak ada masalah dengan toleransi umat beragama.
  • Toleran / Intoleran, nah ini sering di pakai kaum Mental Cemen (Cacat Mental) padahal sebab intoleransi itu dari seorang yang bernama Basuki Cahya Purnama alias Ahok dan umat muslim pun dapat membalas hal yang serupa tapi tidak.
  • Kebhinekaan, dengan berusaha tidak sertakan Tunggal Ika
  • Saya Pancasila, entah apa maksudnya sedangkan kebanyakan dari mental cemen ampas ketiak tersebut tidak hafal sila ke 4.
  • NKRI Harga Mati, ini tidak kalah anehnya lagi .. para psikopat menggoreng kata-kata ini di sosial media sembari bersembunyi di balik ketiak ibunya mungkin.
  • Dan sebagainya.. (tunggu update selanjutnya, tergantung perkembangan para cacat mentalis)
Kami melihat ada fenomena baru di Indonesia. Pengkerdilan para ulama melalui sekolompok orang-orang mental cemen. Mungkin ini proses dari program revolusi mental era Jokowi yang di lakukan seorang marhaenis Puan Maharani.

Ini cukup aneh, ini bukan Indonesia. Entah apa yang mereka maksud NKRI apakah K tersebut memiliki arti yang lain ? entahlah .. yang jelas sejak saya lahir hingga sekarang ini, baru pada rezim Jokowi ini saya merasa ini negara bukan lagi Indonesia.

Pada dasarnya, tidak akan ada persekusi jika penegak hukum di rezim ini berlaku adil. Sedangkan koloni rezim ini saat pilkada sering berkoar memakai ayat suci Al Qur'an mengenai "Jangan Benci Berlebihan yang Sebabkan Berlaku Tidak Adil" dan tentunya ayat suci ini mereka gunakan untuk mendukung Ahok, seorang Narapidana Penista Agama Islam.

Si Cemen dan Para Pelaku Persekusi Sama-Sama Membayar Pajak


Dalam hal keadilan sosial, ini sepertinya tidak berlaku untuk para penghina ulama. Aparat penegak hukum di Rezim Jokowi (PDIP) ini akan tercatat sejarah sebagai rezim yang paling menginjak-injak hak mayoritas warga Indonesia. Jika demikian, maka jangan harap kepercayaan investor dan juga penerimaan pajak negara akan lancar.

Pemerintahan ini beroperasi dari pajak, selain dari Hutang Luar Negeri tentunya. Oleh karena itu, Rakyat Mayoritas memliki hak atas pemerintahan di Indonesia. Siapapun itu, baik Polisi, Pejabat, hingga Presiden sekalipun tidak boleh arogan terhadap rakyat.

Tindakan persekusi ini merupakan buah dari ketidak adilan dan bisa jadi akan terus berlanjut. Seperti bisul, yang jika tidak kita obati sumber penyakitnya malah kita pencet-pencet maka akan semakin besar bisul tersebut. Persekusi di gadang-gadangkan juga seperti itu, hanya sebagian kecil masyarakat di Indonesia yang percaya dengan tindakan pemerintah terhadap persekusi. Saya yakin, sebagian besar masyarakat Indonesia sedang merasakan kebohongan terhadap penegakan hukum, entah apa agendanya.

Beruntung di Indonesia masih ada Majelis Ulama (MUI), Front Pembela Islam (FPI/LPI) dan Tentara Siber Muslim (MCA). Sehingga para penista ulama bisa di tangkap, dan hanya sedikit yang di persekusi. Kebanyakan yang di persekusi adalah Geng Motor, dan lagi-lagi aparat yang di biayai pajak berlaku Arogan (ini membuat banyak orang mau muntah, dan setelah itu ternyata besoknya salah satu anggota aparat tersebut roboh oleh Geng Motor, sungguh ironis memang hasil arogansi).

Bayangkan
Jika aparat kepolisian hanya bertindak pasif, alias menunggu si sinyo mengadu baru ambil tindakan, dan disaat yang sama si sinyo lainnya terus memproduksi "hate-speech" terhadap para tokoh agama Islam, dan para pemburu "hate-speech" yang di namakan "pelaku persekusi" di tangkap, maka kemungkinannya akan terjadi saling menistakan toko umat beragama.

Sekali lagi ..

ENTAH APA AGENDA YANG MEREKA INGINKAN..
(bersambung, kami akan ungkapkan kemungkinan agenda-agenda yang ada di rezim ini) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hukum Istri Meninggalkan Rumah Saat ada Masalah dengan Suami

9 Ciri Tipe Orang yang Suka Ber-Kamuflase

Jika Suami Sedang Susah dan Istri Gugat Cerai